Rabu, 14 September 2016

Hegemoni dalam menyambut mahasiswa baru


Hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai. Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti yang luas, tidak hanya terbatas pada penguasa pemerintah (negara). Hegemoni bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan ataupun tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang ditekankan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar. Adapun konsep hegemoni yang digunakan gramsci untuk mendiskripsikan dan menganalisis bagaimana masyarakat kapitalis modern diorganisasikan, atau dimaksudkan untuk diorganisasikan, dalam masa lalu dan masa kini. Terdapat kebingungan disini tentang konsep-konsep yang dilibatkan, karena gramsci tampaknya pertama-tama membedakan negara dengan masyarakat sipil, negara didenifisikan sebagai sumber kekuasaan koersif dalam suatu masyarakat dan masyarakat sipil didefinisikan sebagai lokasi kepemimpinan hegemoni. Gramsci kemudian menggabungkan kedua konsep ini satu sama lain untuk mendefinisikan apa itu yang disebut ”negara integral” sebagai kombinasi hegemoni yang dilengkapi kekuasaan koersif. Negara integral adalah masyarakat politik plus masyarakat sipil, dengan kata lain hegemoni dilindungi oleh kekuatan koersif. Negara integral memiliki dua aspek: sarana pemaksaan (polisi dan militer), dan sarana untuk membentuk kepemimpinan hegemoni dalam masyarakat sipil. Saya akan menggambarkan suatu contoh tentang peristiwa yang pernah saya alami yang ada kaitanya dengan hegemoni. Berawal dari masuk perkuliahan di sebuah Institut semua mahasiswa baru diwajibkan mengikuti ospek. Ospek biasanya diadakan pada saat kampus kedatangan peserta didik baru, sebelum ia datang ada pengenalan dan orientasi tersendiri. Letak dari keganjilan ospek ini adalah pasti peserta didik baru akan panik kalau mendengar kata-kata itu. Mereka semua berfikir ada kekerasan fisik maupun mental, akan ada hukuman dan banyak lagi. Dan diospek sendiri akan ada perintah-perintah yang mengejutkan akan ada peraturan dan hukum yang masuk akal. Tapi menurut saya ospek tidak selalu begitu, meskipun ada ditempat lain yang memakai cara kekerasan fisik serta hal yang tidak pantas. Pada saat ospek itu kita diajarkan untuk mengenal bagaimanakah keadaan dari kampus yang kita tempati. Nah kali ini saya akan cerita tentang pengalaman saya mengikuti ospek selama 2 hari. Hari pertama, senin pagi-pagi sekitar jam 5-an saya sudah bangun maklum takut terlambat, tapi sial nya setelah sampai di pintu gerbang, saya tidak membawa biodata diri yang disuruh panitia, untung aja pas tiba saya ketemu dengan teman yang sekelopok dengan saya, terus dipimjan kanya saya flasdisk yang disana ada berisi biodatanya, dengan tergesa-gesa saya kembali ke kos an dan langdung meng editnya. Setelah sampai kembali digerbang kampus, ternyata semua mahasiswa sudah berbaris rapi, selanjutnya saya berbaris paling belakang sendiri. Lalu karena saya juga tidak membawa caping atau topi pak tani, saya disuruh berbaris paling depan, semakin takutnya dengan hukuman untungnya ada kakak senior yang baik hati yang memperbolehkan untuk membeli caping ditoko depan kampus, jadinya saya tidak terkena hukuman. Selanjutnya kira-kira pukul 8 seluruh mahasiswa disuruh berkumpul dilapangan sesuai dengan kelompok yang ditentukan dan mendengarkan orasi-orasi yang tidak jelas dari kakak senior yang sok galak. Lalu sekitar pukul 10 semua mahasiswa disuruh memasuki kelas sesuai kelompoknya masing-masing, kegitan didalam kelas yaitu hanya bermain game-game saja dan kalau tidak bisa hanya dihukum bernyanyi didepan atau memperkenalkan diri. Setelah itu ospek hari pertama sudah berakhir. Dan tibalah dihari terakhir ospek institut yaitu hari kedua, saya datang sekitar pukul 7 dari kos an, setibanya didepan gerbang kampus kami seluruh mahasiswa baru disuruh untuk berlari dan menyanyikan yel-yel yang tidak jelas menuju lapangan, setibanya disana sama seperti hari pertama yang hanya mendengarkan orasi yang tidak jelas dan memojok an para mahasiswa baru setelah itu kami disuruh menuju ke kelas dan disuruh untuk berdiskusi tentang kebangsaan, lalu dibagi menjadi beberapa kelompok dan hasil diskusi disampaikan di depan kelas. Lalu sekitar pukul 12 saya pulang menuju kos dan kembali lagi sekitar pukul 6 sore, kita para mahasiswa baru diajak menonton film dokumenter tentang perjuangan mahasiswa terdahulu yang menolak orde baru, setelah acara nonton bareng selesai sekitar pukul 9 malam kami disuruh menuju kelapangan untuk mendengarkan sambutan dari bapak rektor setelah bapak rektor selesai menyampaikan sambutanya lalu tibalah ke acara yang terakhir yaitu membakar api unggun dan menyanyikan lagu perjuangan dan makan tupeng hasil patungan dari tiap kelompok. Acara tersebut berakhir sekitar pukul 12 malam, setelah acara selesai saya langsung bergegas menuju kos dan langsung tidur karena badan saya terasa lelah sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar